Kampung sabilulungan bersih

Kampung sabilulungan bersih

Bandasari

Kab. Bandung kini punya identitas baru. Pertama, Bupati Dadang Naser memiliki mimpi membangun 1000 kampung tematik. Kedua, ada dorongan untuk mengangkat Bandung menjadi smart village. Ketiga, karena Bandung, bukan hanya kota dengan Braga-nya atau dengan Asia Afrika dan Alun-alunnya juga.

Sejumlah gunung yang mengelilingi Braga dan Alun-alun tidak lepas dari Bandung. Ialah penyangga danau purba Bandung. Gunung beserta isinya. Kaki-kakinya yang luas inilah yang merupakan kawasan Kabupaten. Terdiri dari Ciwidey, Pangalengan, Manglayang, Cimenyan, hingga Kamojang. Kawasan yang sangat kaya dengan hutan. Juga pertanian dan seni budaya ataupun kearifan lokal lainnya.

Minggu lalu, pada pertengahan April. Saya dan rekan fotografer, Hakim Suprayogo, berkesempatan mengunjungi salah satu kampung tematik yang sedang dikembangkan tersebut. Kampung Saber Bandasari.  Kampung Sariksa Sabilulungan Bersih. Setiap rukun warga memiliki tema; mulai dari mural, pertanian pekarangan rumah, pengobatan, hingga teras baca yang di sekelilingnya dipenuhi tanaman hijau segar.

Adalah Ridwan Nurdin, warga asli Banda Sari yang membawa kami ke sini. Sebagai Kelompok Informasi masyarakat, ia ingin mengenalkan desanya ke mancamaya, dikenal oleh setiap sudut merah putih. Kakoncara ka mancanagara.

Cerita ini saya awali saat memasuki Gerbang Desa. Atmosfer dunia lain memang sudah sangat terasa. Bukan dunia ghaib loh, tapi karakteristik kampung yang sedang didambakan para penghuni apartemen. Jalan kecil tapi rapih bersih, kolam ikan dan sawah mengaping perjalanan. Rumah-rumah panggung pun masih ada, walaupun didominasi bangunan permanen.  Sebagian pohon-pohon menyerupai hutan kampung – bukan hutan kota—melengkapi perjalanan kami menuju Desa Bandasari.

Desa Bandasari terletak di Kecamatan Cangkuang, 7 kilometer arah Timur dari Komplek Kabupaten di Soreang. Walaupun cuaca panas, keramahan penduduknya membuat hati menjadi adem. Ditemani Ridwan Nurdin, aktivis segala aktivis, kami berdua diantar mengunjungi berbagai atraksi wisata yang ada di Bandasari.

Waktu menunjukkan pukul 14.00, cukup anteng berada di lereng bukit Bumi Kaheman dan segera bergegas menuju kampung lainnya. Tak kalah menarik dan unik, karena sejak masuk sebuah gang, Kampung Jalupang, kami sudah disambut dengan berbagai macam mural. Dari yang verbal berupa tulisan desa Banda Sari hingga yang abstrak. Terdiri dari warna garis tersusun dan teratur sehingga membentuk gambar yang nyaman dipandang. Bukan lagi tembok-tembok mati penuh dengan bekas cipratan air hujan.

Setiap rumah warga di kampung Jalupang, khususnya dinding-dindingnya yang mati dicat dengan gaya mural. Masuk ke lorong-lorong gang yang semuanya dipenuhi mural. Pejalan kaki yang melewati gang perkampungan tidak akan bosan walaupun harus bolak-balik. Muralnya sendiri dibuat oleh seorang inisiator dari warga sendiri. Temanya beragam.

Puas menikmati mural gang perkampungan Jalupang di RW 03, kami diarahkan oleh pemandu ke Bank Sampah yang terletak di RW 12. Tempat persinggahan terakhir dari perjalanan ke Desa Wisata Banda Sari. Bank sampat tepat berada di tengah-tengah pemukiman warga. Walaupun tentu cukup berjarak.

Area bank sampah cukup tertata dengan rapih. Area pemisahan sampah nonorganik, gudang, penangkaran belatung sebagai makanan lele, juga kolam. Beberapa bagian dari bank sampah merupakan hibah dari dinas lingkungan hidup dan sebagian lagi merupakan swadaya masyarakat.

Masyarakat menabung sampah non organik. Karena sampah organik dimanfaatkan langsung oleh warga melalui pengolahan lubang cerdas organik. Maka di bank sampah lebih banyak tersisa sampah nonorganik. Alhasil ruangan pengolahan sampah organik relatif bersih karena jarang digunakan.

 

Selesai ambil gambar dan ngawadul bareng pengelola yang juga inisiator kampung mural, kami bergegas menuju tempat peristirahatan masing-masing. Cuaca cukup cerah saat itu, roda dua pun saya gas dengan santai. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan, akhirnya bisa menembus dan membelah jalanan Kota Bandung, Soreang-Cileunyi. Satu di ujung selatan, satu lagi di ujung timur. Cukup lelah memang, tapi terbayar dengan wawasan baru tentang kampung dan keindahan Bumi Kaheman.

Sebetulnya masih ada satu kampung tematik lagi sih di desa Bandasari yaitu kampung KB, sayang waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Menurut ortu, gak baik anak remaja pulang sore-sore hehehe…Apalagi menjelang jam 16 biasanya jalanan macet. Lain kali insya Allah lebih mendalami lagi wawasan tentang kampung tematik di Kabupaten Bandung lainnya.

 

 

Dipost Oleh Kimwartabandasari

Post Terkait

Tinggalkan Komentar