SENI MURAL DI DESA CANGKUANG WETAN KECAMATAN DAYEUH KOLOT

SENI MURAL DI DESA CANGKUANG WETAN KECAMATAN DAYEUH KOLOT

Kegiatan menggambar mural di Desa Cangkuang Wetan

Jika kita sering lewat di jalan atau sekedar main ke tempat wisata, maka tak jarang kita melihat tulisan-tulisan di tembok-tembok toko atau perkantoran, toilet umum, halte, terminal, jembatan bahkan cagar budaya dan tempat-tempat fasilitas umum lainnya. Dan kebanyakan tulisan-tulisan tersebut mengumbar kata-kata kotor, umpatan, makian dan berbagai kata-kata yang tidak etis lainnya, meskipun ada juga yang sekedar ingin menunjukan eksistensi pribadi atau kelompok bahkan almamaternya. Tindakan tersebut kita kenal dengan istilah vandalisme, yaitu perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya, dan sangat jelas sekali bahwa aksi coret-coret yang membabi buta tak kenal media dan tempat sehingga merusak keindahan itu merupakan aksi vandalisme.

Coretan-coretan yang bersifat vandalis tentu berbeda dengan grafiti yang dapat dikategorikan sebagai sebuah seni jalanan, sebab dalam setiap goresannya menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Dan dalam setiap fasenya seni grafiti mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda. Misalkan pada jaman perebutan kemerdekaan, grafiti sering dijadikan pesan-pesan pembangkit gelora perjuangan dan sarana pemberontakan terhadap kolonialisme, atau bahkan sampai saat ini pun sering hadir sebagai ekspresi ketidak puasan terhadap keadilan sosial, sehingga tak jarang bagi pihak-pihak yang tersinggung dengan isi goresannya, grafiti dikategorikan sebagai bentuk vandalisme.

Sebagaimana grafiti, mural juga merupakan sebuah seni lukis jalanan, sebab medianya adalah dinding, tembok, atau permukaan luas yang permanen. Berbeda dengan grafiti yang lebih menuangkan pada isi tulisan dengan cat semprotnya, mural dapat menggunakan cat apa pun dan menghasilkan berbagai bentuk gambar. Grafiti dan mural saat ini mendapatkan banyak apresiasi sehingga citranya semakin positif, hal tersebut tidak lepas dari kompromi positif antara pemerintah yang membuka lebar kesempatan para seniman lukis jalanan ini untuk mengekspresikan gairah berkeseniannya lewat fasilitas berupa tempat dan ajang-ajang kompetisi, begitu pun dengan para senimannya yang tidak hanya sehedar mengumbar amarah atas ketidak  puasannya terhadap kebijakan pemerintah, namun mereka lebih banyak mengeksperikan nilai-nilai seninya tanpa kehilangan idealisme.

Adalah Desa Cangkuang Wetan Kecamatan Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung Jawa Barat, wilayahnya hampir dikelilingi oleh bangunan-bangunan pabrik, sehingga terkadang sangat sulit menemukan alamat perkampungan. Dan untuk memasuki sebuah perkampungan kita akan disuguhi gang-gang kecil yang di kanan-kirinya bentangan dinding pabrik, bahkan tak jarang sedikit terkesan kumuh.

Kurang lebih sudah hampir tiga tahun terakhir ini, ada aktifitas warga, tepatnya di Rw 03 Kampung Ciguriang Hilir dan Rw 02 Kampung Cibedug Girang Desa Cangkuang Wetan yang ingin mengubah kesan suram di gang yang memasuki wilayahnya menjadi lebih cantik dan indah. Dan tentu orang yang paling berjasa, tanpa mengecilkan peran warga lainnya, adalah sosok Riky atau dikenal dengan panggilan Usor. Setelah tahun lalu di Rw 03 Kampung Ciguriang Hilir, saat ini Usor sedang melukis mural di gang yang memasukii wilayah Rw 02 Kampung Cibedug Girang Desa Cangkuang Wetan.

“Dua tahun lalu, saya dengan dibantu teman-teman Karang Taruna telah menyelesaikan gambar di dinding yang ada di wilayah Rw 03, dan di Rw 02 ini saya baru memulainya lagi sekitar 2 minggu lalu, kegiatan menggambar ini melanjutkan yang sempat tertunda sekitar setahun kebelakang,” ujarnya kepada tim koresponden KIM Katumbiri, Minggu (11/8).

Saat ditanya inisiator dari kegiatan ini, Kang Usor mengatakan “ini diinisisi bersama, khususnya para pemuda yang menginginkan kampungnya terlihat indah dan cantik.”

Usor pun menambahkan, selain di dinding-dinding gang, dia pun atas permintaan pemiliknya kerap menggambar mural di tembok-tembok rumah bahkan kaligrafi di dinding mesjid, dengan tema gambar atau lukisannya sesuai keinginan yang punya rumah.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan tim koresponden KIM Katumbiri, keahliannya menggambar atau melukis ini tidak lepas dari hobinya sejak kecil ditambah hasil menimba ilmu di Kampung Seni Jelekong Kabupaten Bandung, sehingga saat diminta bantuan oleh para pemuda untuk menggambar mural di dinding gang, dengan senang hati Usor menyanggupinya. (Han)

Dipost Oleh Kimkatumbiri

Post Terkait