Siaga Bencana Pemkab Bandung Peduli Lingkungan

Siaga Bencana Pemkab Bandung Peduli Lingkungan

Bupati Siap berangkatkan 10 orang ke Korsel dan umroh

SOREANG I Direktur Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menilai, kultur yang dibangun masyarakat Kabupaten Bandung lewat Gerakan Sajiwa Satapok menjadi roh masyarakat dalam melahirkan kesadaran pengelolaan lingkungan.

“Ini merupakan Roh jiwa dari masyarakat Kab. Bandung, sebagai salah satu bentuk apresiasi yang baik lahirnya kesadaran,” ucapnya.

Sajiwa ini merupakan roh masyarakat Kab. Bandung, dimana setiap harinya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mengelola 1700 ton sampah. Dengan adanya program yang melibatkan masyarakat dan pegiat lingkungan diharapkan bisa mengurangi sampah di Kabupaten Bandung. 

Diakui Novrizal, menyelesaikan persoalan sampah tidak ringan, sangat komplek. Masalahnya bukan lingkungan saja tetapi mencakup sosial, kultural, teknis bahkan politik ada di dalamnya. Semua pendekatan harus dilalukan tidak bisa sebatas simultan.

Menurutnya, kesadaran produsen-produsen dalam negeri dalam pertanggung jawaban akan produk yang menghasilkan sampah plastik masih rendah. “Sampai sekarang pengelolaan sampah yang benar baru 32 persen, dan sisanya masih 68 persen jadi tanggung jawab bersama, ” kata Novrizal saat menghadiri acara Jambore Lingkungan yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup, di Gedung Budaya Sabilulungan, Senin (16/12).

 

Novrizal menegskan, hal tersebut jelasnya tidak lepas dari masih rendahnya kolekting sampah di Indonesia. Misalnya saja Indonesia justru masih mengimpor bahan baku sampah untuk diolah kembali menjadi produk kemasan. Persoalan sampah bisa dibatasi mulai dari akan muncul dan lahir masalah sampah, misalkan agar minum tidak menimbukkan sampah bawa tembler, tidak menggunakan steropom itu bagian pendekatan pemerintah kepada masyarakat yang saat ini masih didominasi sampah plastik dan sampah steropom.

Ia menambahkan, Pemerintah telah menyiapkan regulasi, seperti hotel dan sebagainya memiliki tanggung jawab seperti pakejing dari produknya. Kedepan diharapkan Industri besar akan bekerjasama dengan Bank Sampah. Secara simultan bagaimana cara meningkatan kapasitas layanan daerah termasuk dengan peningkatan teknologi dibidang pengelolaan sampah.

“Sampahku tanggungjawabku, didalm undang-undang baru sampah jadi tanggungjawab semua orang, kalau kita mau menjemput masa depan, menjadi sesuatu yg masif ada di Kabupaten Bandung ini, ” katanya.

Ungkapan itu di apresiasi oleh Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, sebelum melahirkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Pola Tanam. Terlebih dahulu akan melakukna gerakan bersama masyarakat juga penggiat lingkungan, para camat serta kepala desa agar mengetahui cara pola tanam yang baik. Sebab menurutnya, Perbup tersebut perlu dikeluarkan menyusul kejadian banjir bandang di Desa Cibeureum Kertasari beberapa waktu lalu.

“Kami akan lahirkan perbup tentang pola tanam. Buat yang menanam di lahan PT. Perhutani dan PTPN tanpa sabuk gunung atau menanam tanpa berwawasan lingkungan, akan kita cabut hak garapnya melalui perbup tersebut,” ucap bupati.

 

Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan satuan tugas (satgas) Citarum Harum dan musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), untuk mensosialisasikan pola tanam yang baik kepada masyarakat petani.

“Kami sarankan terutama kepada mereka yang menggarap lahan di ketinggian, baik di wilayah utara maupun selatan Kabupaten Bandung. Bersama satgas kita terus sosialisasikan secara utuh, memang untuk sabuk gunung ada biaya tambahan, tapi itulah kearifan bertani dengan wawasan lingkungan,” tuturnya.

Ia bercerita, saat berkunjung ke korea selatan. Saya terinspirasi oleh korsel dibawa mister kim, 30- 40 tahun lalu daerahnya parah seperti di kita, tapi apa yang terjadi sekarang, menjadi negara tercepat, sekarang sudah menjadi negara maju.

“Intinya jambore ini merupakan kumpulan para suku yang ada di pedalaman, di wilayah Kabupaten Bandung yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Oleh karenanya saya mengapresiasi, ketika dari pusat muncul program citarum harum, yang menginisiasi kita dari Kabupaten Bandung. “Kita telah peduli terhadap lingkungan bersama para pegiat dari masyarakat. Dan sebagai reward nya akan diberangkatkan 10 ke korsel, dan 5 orang umroh,” pungkas Bupati.

Sementara itu Ketua Yayasan Elingan Deni riswandani menilai, baru 30 persen dari 520 perusahaan di Kab Bandung masih melakukan pencemaran lingkungan. Selama ini komunitas butuh sinergis, sebagai upaya implementatif dari sabilulungan butuh kinerja pemerintah yang jelas. Pemkab harus membuka ruang seluas-luasnya seperti program Kampung Saber pemberdayaan melibatkan masyarakat, membuka ruang untuk para komunitas lingkungan agar bisa menjalin kerjasama yang baik dengan pemerintah.

Post Terkait